Skip to content
Opens in a new window
Listen to this chapter • 3:28

[1] "Manusia, yang dilahirkan oleh perempuan, singkat umurnya dan penuh keresahan.

[2] Dia tumbuh seperti bunga, lalu layu. Dia menghilang seperti bayang-bayang dan tidak selamanya ada.

[3] Patutkah Engkau tujukan pandangan-Mu ke arah orang yang sedemikian itu? Akankah Engkau turut membawaku ke pengadilan-Mu?

[4] Siapakah yang dapat menjadikan yang najis kepada yang suci? Tiada seorang pun!

[5] Hari-hari manusia sudah ditentukan. Jumlah bulannya sudah Kautetapkan, dan batas-batasnya pun sudah Kautentukan sehingga tidak dapat dilaluinya.

[6] Jadi, alihkanlah pandangan-Mu daripadanya, supaya dia tidak diganggu dan dapat menikmati hari-harinya seperti seorang pekerja upahan.

[7] Jika ditebang, pokok itu masih ada harapan: pokok itu akan bertunas lagi dan pucuknya tidak akan berhenti tumbuh.

[8] Sekalipun akarnya menjadi tua di dalam tanah dan tunggulnya mati dalam debu,

[9] pokok itu akan bertunas ketika mencium bau air, dan mengeluarkan ranting seperti tanaman muda.

[10] Tetapi apabila manusia mati dan terbujur kaku; ketika putus nyawanya, di manakah dia?

[11] Seperti air menguap dari laut dan sungai menjadi tohor dan kering,

[12] demikianlah manusia berbaring dan tidak bangkit semula. Selama langit masih ada, manusia tidak akan terjaga dan tidak akan bangun daripada tidurnya.

[13] Hanya sekiranya Engkau menyembunyikan aku di alam kubur, melindungi aku sehingga murka-Mu surut! Hanya sekiranya Engkau menentukan batas waktu bagiku lalu mengingat aku!

[14] Jika manusia mati, dapatkah dia hidup lagi? Sepanjang hari pergelutanku aku hendak menanti sehingga tiba saat pemulihanku.

[15] Engkau akan memanggil dan aku akan menjawab Engkau, Engkau akan rindu kepada buatan tangan-Mu ini.

[16] Meskipun pada waktu itu Engkau menghitung langkah-langkahku, dosaku tidak akan Kauperhatikan.

[17] Pelanggaranku akan dimateraikan dalam pundi-pundi, kesalahanku akan Kaututup.

[18] Namun demikian, seperti gunung runtuh musnah dan batu pejal berpindah dari tempatnya,

[19] seperti air mengikis batu-batu dan luapan air menghanyutkan debu bumi, demikianlah Engkau memutuskan harapan manusia.

[20] Engkau mengalahkan dia untuk selama-lamanya dan dia pun pergi, Engkau mengubah mukanya dan mengusirnya.

[21] Anak-anaknya menjadi mulia, tetapi dia tidak tahu; mereka menjadi hina, tetapi ia tidak menyedarinya.

[22] Hanya tubuhnya menyakitinya, jiwanya berkabung kerana dirinya sendiri."

Ayub — Chapters