Skip to content
Opens in a new window
Listen to this chapter • 4:57

[1] Orang yang nekat pun takkan berani membangkitkan marahnya. Siapakah yang dapat bertahan di hadapan Aku?

[2] Siapakah yang menghadapi Aku, yang Kubiarkan tetap selamat? Apa yang ada di seluruh kolong langit, adalah kepunyaan-Ku.

[3] Aku tidak akan berdiam diri tentang anggota-anggota badannya, tentang keperkasaannya dan perawakannya yang tampan.

[4] Siapakah dapat menyingkapkan pakaian luarnya? Baju zirahnya yang berlapis dua, siapakah dapat menembusnya?

[5] Siapa dapat membuka pintu moncongnya? Di sekeliling giginya ada kengerian.

[6] Punggungnya adalah perisai-perisai yang bersusun, terlekat rapat seperti meterai.

[7] Rapat hubungannya yang satu dengan yang lain, sehingga angin tidak dapat masuk;

[8] yang satu melekat pada yang lain, bertautan tak terceraikan lagi.

[9] Bersinnya menyinarkan cahaya, matanya laksana merekahnya fajar.

[10] Dari dalam mulutnya keluar suluh, dan berpancaran bunga api.

[11] Dari dalam lubang hidungnya mengepul uap bagaikan dari dalam belanga yang mendidih dan menggelegak isinya.

[12] Nafasnya menyalakan bara, dan nyala api keluar dari dalam mulutnya.

[13] Di dalam tengkuknya ada kekuatan; ketakutan berlompatan di hadapannya.

[14] Daging gelambirnya berlekatan, melekat padanya, tidak tergerak.

[15] Hatinya keras seperti batu, keras seperti batu kilangan bawah.

[16] Bila ia bangkit, maka semua yang berkuasa menjadi gentar, menjadi bingung karena ketakutan.

[17] Bila ia diserang dengan pedang, ia tidak mempan, demikian juga dengan tombak, seligi atau lembing.

[18] Besi dirasanya seperti jerami, tembaga seperti kayu lapuk.

[19] Anak panah tidak dapat menghalau dia, batu umban seolah-olah berubah padanya menjadi jerami.

[20] Gada dianggapnya jerami dan ia menertawakan desingan lembing.

[21] Pada bagian bawahnya ada tembikar yang runcing; ia membujur di atas lumpur seperti pengeretan pengirik.

[22] Lubuk dibuatnya berbual-bual seperti periuk, laut dijadikannya tempat memasak campuran rempah-rempah.

[23] Ia meninggalkan jejak yang bercahaya, sehingga samudera raya disangka orang rambut putih.

[24] Tidak ada taranya di atas bumi; itulah makhluk yang tidak mengenal takut.

[25] Segala yang tinggi takut kepadanya; ia adalah raja atas segala binatang yang ganas."

Ayub — Chapters