Skip to content
Opens in a new window
Listen to this chapter • 6:21

[1] Sesudah itu Ayub membuka mulutnya dan mengutuki hari kelahirannya.

[2] Maka berbicaralah Ayub:

[3] "Biarlah hilang lenyap hari kelahiranku dan malam yang mengatakan: Seorang anak laki-laki telah ada dalam kandungan.

[4] Biarlah hari itu menjadi kegelapan, janganlah kiranya Allah yang di atas menghiraukannya, dan janganlah cahaya terang menyinarinya.

[5] Biarlah kegelapan dan kekelaman menuntut hari itu, awan-gemawan menudunginya, dan gerhana matahari mengejutkannya.

[6] Malam itu – biarlah dia dicekam oleh kegelapan; janganlah ia bersukaria pada hari-hari dalam setahun; janganlah ia termasuk bilangan bulan-bulan.

[7] Ya, biarlah pada malam itu tidak ada yang melahirkan, dan tidak terdengar suara kegirangan.

[8] Biarlah ia disumpahi oleh para pengutuk hari, oleh mereka yang pandai membangkitkan marah Lewiatan.

[9] Biarlah bintang-bintang senja menjadi gelap; biarlah ia menantikan terang yang tak kunjung datang, janganlah ia melihat merekahnya fajar,

[10] karena tidak ditutupnya pintu kandungan ibuku, dan tidak disembunyikannya kesusahan dari mataku.

[11] Mengapa aku tidak mati waktu aku lahir, atau binasa waktu aku keluar dari kandungan?

[12] Mengapa pangkuan menerima aku; mengapa ada buah dada, sehingga aku dapat menyusu?

[13] Jikalau tidak, aku sekarang berbaring dan tenang; aku tertidur dan mendapat istirahat

[14] bersama-sama raja-raja dan penasihat-penasihat di bumi, yang mendirikan kembali reruntuhan bagi dirinya,

[15] atau bersama-sama pembesar-pembesar yang mempunyai emas, yang memenuhi rumahnya dengan perak.

[16] Atau mengapa aku tidak seperti anak gugur yang disembunyikan, seperti bayi yang tidak melihat terang?

[17] Di sanalah orang fasik berhenti menimbulkan huru-hara, di sanalah mereka yang kehabisan tenaga mendapat istirahat.

[18] Dan para tawanan bersama-sama menjadi tenang, mereka tidak lagi mendengar suara pengerah.

[19] Di sana orang kecil dan orang besar sama, dan budak bebas dari pada tuannya.

[20] Mengapa terang diberikan kepada yang bersusah-susah, dan hidup kepada yang pedih hati;

[21] yang menantikan maut, yang tak kunjung tiba, yang mengejarnya lebih dari pada menggali harta terpendam;

[22] yang bersukaria dan bersorak-sorai dan senang, bila mereka menemukan kubur;

[23] kepada orang laki-laki yang jalannya tersembunyi, yang dikepung Allah?

[24] Karena ganti rotiku adalah keluh kesahku, dan keluhanku tercurah seperti air.

[25] Karena yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kucemaskan, itulah yang mendatangi aku.

[26] Aku tidak mendapat ketenangan dan ketenteraman; aku tidak mendapat istirahat, tetapi kegelisahanlah yang timbul."

Ayub — Chapters