Skip to content
Opens in a new window
Listen to this chapter • 6:40

[1] Tetapi Ayub menjawab:

[2] "Berapa lama lagi kamu menyakitkan hatiku, dan meremukkan aku dengan perkataan?

[3] Sekarang telah sepuluh kali kamu menghina aku, kamu tidak malu menyiksa aku.

[4] Jika aku sungguh tersesat, maka aku sendiri yang menanggung kesesatanku itu.

[5] Jika kamu sungguh hendak membesarkan diri terhadap aku, dan membuat celaku sebagai bukti terhadap diriku,

[6] insafilah, bahwa Allah telah berlaku tidak adil terhadap aku, dan menebarkan jala-Nya atasku.

[7] Sesungguhnya, aku berteriak: Kelaliman!, tetapi tidak ada yang menjawab. Aku berseru minta tolong, tetapi tidak ada keadilan.

[8] Jalanku ditutup-Nya dengan tembok, sehingga aku tidak dapat melewatinya, dan jalan-jalanku itu dibuat-Nya gelap.

[9] Ia telah menanggalkan kemuliaanku dan merampas mahkota di kepalaku.

[10] Ia membongkar aku di semua tempat, sehingga aku lenyap, dan seperti pohon harapanku dicabut-Nya.

[11] Murka-Nya menyala terhadap aku, dan menganggap aku sebagai lawan-Nya.

[12] Pasukan-Nya maju serentak, mereka merintangi jalan melawan aku, lalu mengepung kemahku.

[13] Saudara-saudaraku dijauhkan-Nya dari padaku, dan kenalan-kenalanku tidak lagi mengenal aku.

[14] Kaum kerabatku menghindar, dan kawan-kawanku melupakan aku.

[15] Anak semang dan budak perempuanku menganggap aku orang yang tidak dikenal, aku dipandang mereka orang asing.

[16] Kalau aku memanggil budakku, ia tidak menyahut; aku harus membujuknya dengan kata-kata manis.

[17] Nafasku menimbulkan rasa jijik kepada isteriku, dan bauku memualkan saudara-saudara sekandungku.

[18] Bahkan kanak-kanak pun menghina aku, kalau aku mau berdiri, mereka mengejek aku.

[19] Semua teman karibku merasa muak terhadap aku; dan mereka yang kukasihi, berbalik melawan aku.

[20] Tulangku melekat pada kulit dan dagingku, dan hanya gusiku yang tinggal padaku.

[21] Kasihanilah aku, kasihanilah aku, hai sahabat-sahabatku, karena tangan Allah telah menimpa aku.

[22] Mengapa kamu mengejar aku, seakan-akan Allah, dan tidak menjadi kenyang makan dagingku?

[23] Ah, kiranya perkataanku ditulis, dicatat dalam kitab,

[24] terpahat dengan besi pengukir dan timah pada gunung batu untuk selama-lamanya!

[25] Tetapi aku tahu: Penebusku hidup, dan akhirnya Ia akan bangkit di atas debu.

[26] Juga sesudah kulit tubuhku sangat rusak, tanpa dagingku pun aku akan melihat Allah,

[27] yang aku sendiri akan melihat memihak kepadaku; mataku sendiri menyaksikan-Nya dan bukan orang lain. Hati sanubariku merana karena rindu.

[28] Kalau kamu berkata: Kami akan menuntut dia dan mendapatkan padanya sebab perkaranya!,

[29] takutlah kepada pedang, karena kegeraman mendatangkan hukuman pedang, agar kamu tahu, bahwa ada pengadilan."

Ayub — Chapters