Skip to content
Opens in a new window
Listen to this chapter • 2:53

[1] Maka ketiga orang itu menghentikan sanggahan mereka terhadap Ayub, karena ia menganggap dirinya benar.

[2] Lalu marahlah Elihu bin Barakheel, orang Bus, dari kaum Ram; ia marah terhadap Ayub, karena ia menganggap dirinya lebih benar dari pada Allah,

[3] dan ia juga marah terhadap ketiga orang sahabat itu, karena mereka mempersalahkan Ayub, meskipun tidak dapat memberikan sanggahan.

[4] Elihu menangguhkan bicaranya dengan Ayub, karena mereka lebih tua dari pada dia.

[5] Tetapi setelah dilihatnya, bahwa mulut ketiga orang itu tidak lagi memberi sanggahan, maka marahlah ia.

[6] Lalu berbicaralah Elihu bin Barakheel, orang Bus itu: “Aku masih muda dan kamu sudah berumur tinggi; oleh sebab itu aku malu dan takut mengemukakan pendapatku kepadamu.

[7] Pikirku: Biarlah yang sudah lanjut usianya berbicara, dan yang sudah banyak jumlah tahunnya memaparkan hikmat.

[8] Tetapi roh yang di dalam manusia, dan nafas Yang Mahakuasa, itulah yang memberi kepadanya pengertian.

[9] Bukan orang yang lanjut umurnya yang mempunyai hikmat, bukan orang yang sudah tua yang mengerti keadilan.

[10] Oleh sebab itu aku berkata: Dengarkanlah aku, aku pun akan mengemukakan pendapatku.

[11] Ketahuilah, aku telah menantikan kata-katamu, aku telah memperhatikan pemikiranmu, hingga kamu menemukan kata-kata yang tepat.

[12] Kepadamulah kupusatkan perhatianku, tetapi sesungguhnya, tiada seorang pun yang mengecam Ayub, tiada seorang pun di antara kamu menyanggah perkataannya.

[13] Jangan berkata sekarang: Kami sudah mendapatkan hikmat; hanya Allah yang dapat mengalahkan dia, bukan manusia.

[14] Perkataannya tidak tertuju kepadaku, dan aku tidak akan menjawabnya dengan perkataanmu.

[15] Mereka bingung, mereka tidak dapat memberi sanggahan lagi, mereka tidak dapat berbicara lagi.

[16] Haruskah aku menunggu, karena mereka putus bicara, karena mereka berdiri di sana dan tidak memberi sanggahan lagi?

[17] Aku pun hendak memberi sanggahan pada giliranku, aku pun akan mengemukakan pendapatku.

[18] Karena aku tumpat dengan kata-kata, semangat yang ada dalam diriku mendesak aku.

[19] Sesungguhnya, batinku seperti anggur yang tidak mendapat jalan hawa, seperti kirbat baru yang akan meletup.

[20] Aku harus berbicara, supaya merasa lega, aku harus membuka mulutku dan memberi sanggahan.

[21] Aku tidak akan memihak kepada siapa pun dan tidak akan menyanjung-nyanjung siapa pun,

[22] karena aku tidak tahu menyanjung-nyanjung; jika demikian, maka segera Pembuatku akan mencabut nyawaku.”

Ayub — Chapters