[1] -
[3] Maka Elifas menjawab, “Omong kosong, Ayub, cakapmu sungguh tiada arti! Tak ada orang arif yang menjawab seperti kau ini, tak akan ia membela dirinya dengan kata-kata yang tak ada maknanya.
[4] Seandainya omonganmu itu dituruti, tak seorang pun takut atau berdoa kepada Allah lagi.
[5] Kata-katamu membuktikan bahwa engkau bersalah, tapi kejahatanmu kaututupi dengan bersilat lidah.
[6] Tak perlu engkau kutuduh dan persalahkan, sebab oleh kata-katamu sendiri kau diadukan.
[7] Kaukira engkau manusia pertama yang dilahirkan? Hadirkah engkau ketika gunung-gunung diciptakan?
[8] Apakah kau mendengar Allah membuat rencana-Nya? Apakah hanya engkau yang mempunyai hikmat manusia?
[9] Segala yang kauketahui, kami pun ketahui; segala yang kaufahami, jelas pula bagi kami.
[10] Hikmat ini kami terima dari orang yang beruban; mereka sudah ada sebelum ayahmu dilahirkan!
[11] Mengapa penghiburan Allah enggan kauterima? Kami bicara dengan sabar dan lembut atas nama-Nya.
[12] Tetapi kau naik pitam, matamu menyala-nyala;
[13] kau marah kepada Allah dan membantah-Nya.
[14] Mungkinkah manusia sama sekali tak salah? Dapatkah ia dibenarkan di hadapan Allah?
[15] Bahkan kepada malaikat pun Allah tidak percaya; mereka tidak suci pada pemandangan-Nya.
[16] Apalagi manusia yang bejat dan ternoda, yang meneguk kejahatan seperti air saja.
[17] Dengar Ayub, kau akan kuterangkan sesuatu,
[18] yang diajarkan orang arif kepadaku. Ajaran itu diterimanya dari leluhurnya, dan diteruskan dengan lengkap kepada keturunannya.
[19] Waktu itu tak ada orang asing di negeri mereka; tak ada yang menyesatkan mereka dari Allah.
[20] Orang jahat yang menindas sesamanya, akan merasa cemas sepanjang hidupnya.
[21] Bunyi-bunyi dahsyat memekakkan telinganya; di saat yang aman perampok datang menyerangnya.
[22] Tak ada harapan baginya mengelak kegelapan, sebab pedang pembunuh mengejarnya pada setiap kesempatan.
[23] Burung-burung nasar menunggu saat kematiannya, mereka hendak melahap mayatnya. Maka sadarlah ia bahwa suramlah hari depannya.
[24] Bencana bagaikan raja perkasa, sudah siap hendak menyergapnya.
[25] Begitulah nasib orang yang menantang Allah, dan berani melawan Yang Mahakuasa.
[26] -
[27] Dengan sombong ia menyerbu dan melawan Allah; diangkatnya perisainya, ia pantang mengalah.
[28] Ia menetap di kota-kota yang porak-poranda, di rumah-rumah yang tak ada penghuninya. Kota-kota itu sudah ditentukan untuk tetap menjadi reruntuhan.
[29] Kekayaan orang itu akan hilang tanpa bekas; harta bendanya akan habis tandas.
[30] Ia tak akan luput dari gelap gulita; api akan menghanguskan tunas-tunasnya. Ia akan musnah oleh hembusan mulut Allah.
[31] Jika ia percaya kepada yang tak berguna, akan tertipulah ia; dan imbalan yang akan diterimanya, tidak berguna juga.
[32] Sebelum tiba masanya, ia akan mati, seperti dahan layu yang tak dapat hijau lagi.
[33] Ia seperti pohon anggur yang gugur buahnya, seperti pohon zaitun yang rontok bunganya.
[34] Orang yang jahat tak akan berketurunan; habis terbakarlah rumah yang dibangunnya dari hasil suapan.
[35] Itulah mereka yang merancangkan kejahatan dan melaksanakannya; tipu muslihat selalu terkandung dalam hatinya.”