Skip to content
Opens in a new window
Listen to this chapter • 6:15

[1] Bila engkau duduk makan dengan seorang pembesar, perhatikanlah baik-baik apa yang ada di depanmu.

[2] Taruhlah sebuah pisau pada lehermu, bila besar nafsumu!

[3] Jangan ingin akan makanannya yang lezat, itu adalah hidangan yang menipu.

[4] Jangan bersusah payah untuk menjadi kaya, tinggalkan niatmu ini.

[5] Kalau engkau mengamat-amatinya, lenyaplah ia, karena tiba-tiba ia bersayap, lalu terbang ke angkasa seperti rajawali.

[6] Jangan makan roti orang yang kikir, jangan ingin akan makanannya yang lezat.

[7] Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia. "Silakan makan dan minum," katanya kepadamu, tetapi ia tidak tulus hati terhadapmu.

[8] Suap yang telah kaumakan, kau akan muntahkan, dan kata-katamu yang manis kausia-siakan.

[9] Jangan berbicara di telinga orang bebal, sebab ia akan meremehkan kata-katamu yang bijak.

[10] Jangan engkau memindahkan batas tanah yang lama, dan memasuki ladang anak-anak yatim.

[11] Karena penebus mereka kuat, Dialah yang membela perkara mereka melawan engkau.

[12] Arahkanlah perhatianmu kepada didikan, dan telingamu kepada kata-kata pengetahuan.

[13] Jangan menolak didikan dari anakmu ia tidak akan mati kalau engkau memukulnya dengan rotan.

[14] Engkau memukulnya dengan rotan, tetapi engkau menyelamatkan nyawanya dari dunia orang mati.

[15] Hai anakku, jika hatimu bijak, hatiku juga bersukacita.

[16] Jiwaku bersukaria, kalau bibirmu mengatakan yang jujur.

[17] Janganlah hatimu iri kepada orang-orang yang berdosa, tetapi takutlah akan TUHAN senantiasa.

[18] Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang.

[19] Hai anakku, dengarkanlah, dan jadilah bijak, tujukanlah hatimu ke jalan yang benar.

[20] Janganlah engkau ada di antara peminum anggur dan pelahap daging.

[21] Karena si peminum dan si pelahap menjadi miskin, dan kantuk membuat orang berpakaian compang-camping.

[22] Dengarkanlah ayahmu yang memperanakkan engkau, dan janganlah menghina ibumu kalau ia sudah tua.

[23] Belilah kebenaran dan jangan menjualnya; demikian juga dengan hikmat, didikan dan pengertian.

[24] Ayah seorang yang benar akan bersorak-sorak; yang memperanakkan orang-orang yang bijak akan bersukacita karena dia.

[25] Biarlah ayahmu dan ibumu bersukacita, biarlah beria-ria dia yang melahirkan engkau.

[26] Hai anakku, berikanlah hatimu kepadaku, biarlah matamu senang dengan jalan-jalanku.

[27] Karena perempuan jalang adalah lobang yang dalam, dan perempuan asing adalah sumur yang sempit.

[28] Bahkan, seperti penyamun ia menghadang, dan memperbanyak pengkhianat di antara manusia.

[29] Siapa mengaduh? Siapa mengeluh? Siapa bertengkar? Siapa berkeluh kesah? Siapa mendapat cidera tanpa sebab? Siapa merah matanya?

[30] Yakni mereka yang duduk dengan anggur sampai jauh malam, mereka yang datang mengecap anggur campuran.

[31] Jangan melihat kepada anggur, kalau merah menarik warnanya, dan mengilau dalam cawan, yang mengalir masuk dengan nikmat,

[32] tetapi kemudian memagut seperti ular, dan menyemburkan bisa seperti beludak.

[33] Lalu matamu akan melihat hal-hal yang aneh, dan hatimu mengucapkan kata-kata yang kacau.

[34] Engkau seperti orang di tengah ombak laut, seperti orang di atas tiang kapal.

[35] Engkau akan berkata: "Orang memukul aku, tetapi aku tidak merasa sakit. Orang memalu aku, tetapi tidak kurasa. Bilakah aku siuman? Aku akan mencari anggur lagi."

Amsal — Chapters