Skip to content
Opens in a new window
Listen to this chapter • 2:44

[1] Hai anakku, perhatikanlah hikmatku, arahkanlah telingamu kepada kepandaian yang kuajarkan,

[2] supaya engkau berpegang pada kebijaksanaan dan bibirmu memelihara pengetahuan.

[3] Karena bibir perempuan jalang menitikkan tetesan madu dan langit-langit mulutnya lebih licin dari pada minyak,

[4] tetapi kemudian ia pahit seperti empedu, dan tajam seperti pedang bermata dua.

[5] Kakinya turun menuju maut, langkahnya menuju dunia orang mati.

[6] Ia tidak menempuh jalan kehidupan, jalannya sesat, tanpa diketahuinya.

[7] Sebab itu, hai anak-anak, dengarkanlah aku, janganlah kamu menyimpang dari pada perkataan mulutku.

[8] Jauhkanlah jalanmu dari pada dia, dan janganlah menghampiri pintu rumahnya,

[9] supaya engkau jangan menyerahkan keremajaanmu kepada orang lain, dan tahun-tahun umurmu kepada orang kejam;

[10] supaya orang lain jangan mengenyangkan diri dengan kekayaanmu, dan hasil susah payahmu jangan masuk ke rumah orang yang tidak dikenal

[11] dan pada akhirnya engkau akan mengeluh, kalau daging dan tubuhmu habis binasa,

[12] lalu engkau akan berkata: “Ah, mengapa aku benci kepada didikan, dan hatiku menolak teguran;

[13] mengapa aku tidak mendengarkan suara guru-guruku, dan tidak mengarahkan telingaku kepada pengajar-pengajarku?

[14] Aku nyaris terjerumus ke dalam tiap malapetaka di tengah-tengah jemaah dan perkumpulan.”

[15] Minumlah air dari kulahmu sendiri, minumlah air dari sumurmu yang membual.

[16] Patutkah mata airmu meluap ke luar seperti batang-batang air ke lapangan-lapangan?

[17] Biarlah itu menjadi kepunyaanmu sendiri, jangan juga menjadi kepunyaan orang lain.

[18] Diberkatilah kiranya sendangmu, bersukacitalah dengan isteri masa mudamu:

[19] rusa yang manis, kijang yang jelita; biarlah buah dadanya selalu memuaskan engkau, dan engkau senantiasa berahi karena cintanya.

[20] Hai anakku, mengapa engkau berahi akan perempuan jalang, dan mendekap dada perempuan asing?

[21] Karena segala jalan orang terbuka di depan mata TUHAN, dan segala langkah orang diawasi-Nya.

[22] Orang fasik tertangkap dalam kejahatannya, dan terjerat dalam tali dosanya sendiri.

[23] Ia mati, karena tidak menerima didikan dan karena kebodohannya yang besar ia tersesat.

Amsal — Chapters