Skip to content
Opens in a new window
Listen to this chapter • 5:30

[1] Sebab itu, jika di dalam Al-Masih ada dorongan, ada penghiburan kasih, ada kebersamaan dalam Ruh, ada kemesraan, dan juga kemurahan,

[2] sempurnakanlah kebahagiaanku dengan hidup sehati sepikir, menaruh kasih yang sama, menjadi satu dalam jiwa dan tujuan.

[3] Jangan ada seorang pun yang mementingkan diri atau menyombongkan dirinya sendiri, melainkan hendaklah dengan rendah hati masing-masing menganggap bahwa yang lain lebih mulia daripada dirinya sendiri.

[4] Masing-masing jangan hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, melainkan kepentingan orang lain juga.

[5] Hendaklah kamu berpikir sebagaimana Isa Al-Masih:

[6] Sekalipun Ia bersifat ilahi, kesetaraan dengan Allah itu tidak dianggap-Nya sebagai sesuatu yang harus dimanfaatkan.

[7] Tetapi sebaliknya, Ia melepaskan semuanya, menempatkan diri sebagai seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia,

[8] dan sementara Ia ada dalam keadaan sebagai manusia, Ia merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan mati di kayu salib.

[9] Itulah sebabnya, Allah sangat menjunjung-Nya tinggi dan menganugerahkan kepada-Nya nama di atas segala nama

[10] supaya dalam nama Isa semua akan bertekuk lutut, baik yang ada di langit, di bumi, maupun yang ada di bawah bumi,

[11] dan semua lidah mengakui, “Isa Al-Masih adalah Junjungan Yang Ilahi,” bagi kemuliaan Allah, Sang Bapa kita.

[12] Sebab itu, hai Saudara-saudaraku terkasih, sebagaimana kamu selalu taat, hendaklah dengan rasa hormat dan gentar kamu mengamalkan hal-hal yang benar sebagai orang-orang yang sudah diselamatkan, bukan saja seperti ketika aku bersama-sama dengan kamu, tetapi terlebih lagi sekarang ketika aku jauh dari kamu.

[13] Karena Allah sendirilah yang bekerja di dalam dirimu sehingga kamu berkehendak dan bertindak sesuai dengan maksud baik-Nya.

[14] Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut atau berbantah-bantah,

[15] supaya kamu tidak bercacat dan murni, serta menjadi anak-anak Allah yang tidak bernoda di tengah-tengah kaum yang hatinya tidak lurus dan sesat ini sehingga di antara mereka, kamu bercahaya seperti bintang-bintang di dalam dunia.

[16] Sementara itu, kamu pun harus menunjukkan kepada mereka firman yang memberi hidup. Dengan demikian, aku dapat bermegah ketika Al-Masih datang kelak sebab ternyata aku tidak sia-sia berusaha dan berjerih-lelah.

[17] Bahkan jika darahku pun harus dicurahkan sebagai kurban bagi Allah dan pengabdian demi imanmu, aku bergembira dan berbahagia bersama-sama dengan kamu semua.

[18] Demikian jugalah kamu seharusnya. Bergembira dan berbahagialah bersama-sama dengan aku.

[19] Dalam Isa, Junjungan kita Yang Ilahi, aku berharap dapat dengan segera mengutus Timotius kepadamu supaya hatiku menjadi tenang karena aku mengetahui hal ihwalmu.

[20] Kecuali dia, tidak ada seorang pun yang sehati denganku, yang dengan sungguh-sungguh mempedulikan segala kepentinganmu.

[21] Sebab semua yang lain hanya mencari kepentingan mereka sendiri dan bukan kepentingan Isa Al-Masih.

[22] Tetapi, kamu tahu bahwa Timotius terbukti tahan uji. Seperti seorang anak dengan bapaknya, ia telah mengabdi bersama-sama dengan aku dalam pekabaran Injil.

[23] Setelah aku mengetahui bagaimana perkaraku selanjutnya, aku berharap dapat segera mengutusnya kepadamu.

[24] Tetapi, di dalam Tuhan aku yakin bahwa aku sendiri pun akan datang secepatnya.

[25] Meskipun begitu, aku menganggap perlu untuk mengutus kembali kepadamu saudaraku, teman kerjaku, dan teman seperjuanganku, yaitu Epafroditus. Ia diutus olehmu untuk menolong aku dalam keperluanku.

[26] Sebab selain ia rindu kepada kamu semua, hatinya pun merasa susah karena kamu mendengar bahwa ia jatuh sakit.

[27] Memang ia jatuh sakit, bahkan nyaris mati. Tetapi, Allah menaruh belas kasihan kepadanya, bahkan bukan hanya kepadanya, melainkan juga kepadaku supaya dukacitaku jangan semakin bertambah.

[28] Sebab itu, aku akan sesegera mungkin mengutus dia supaya kamu bergembira karena kamu dapat melihat dia lagi. Dengan demikian, kekhawatiranku pun menjadi berkurang.

[29] Sambutlah dia dalam Tuhan dengan penuh kegembiraan, dan hormatilah orang-orang yang demikian

[30] karena ia nyaris mati demi pengabdiannya kepada Al-Masih. Ia mempertaruhkan nyawanya untuk melengkapi apa yang kurang dalam usahamu menolong aku.

Surat Filipi — Chapters