Skip to content
Opens in a new window
Listen to this chapter • 2:57

[1] Setiap Imam Besar yang dipilih dari antara manusia ditetapkan untuk mewakili manusia dalam hubungan mereka dengan Allah. Ia bertugas untuk mempersembahkan berbagai persembahan dan kurban karena dosa.

[2] Imam Besar itu dapat memahami mereka yang kufur dan sesat karena ia pun diliputi oleh kelemahan.

[3] Itulah sebabnya, ia harus mempersembahkan kurban, bukan saja untuk dosa-dosa umat, melainkan juga untuk dosa-dosanya sendiri.

[4] Lagi pula, tidak seorang pun yang mengambil kehormatan itu atas kehendaknya sendiri, melainkan dipanggil oleh Allah seperti halnya Nabi Harun.

[5] Demikian juga dengan Al-Masih, Ia tidak memuliakan diri-Nya supaya dijadikan Imam Besar, tetapi ditetapkan oleh Dia yang bersabda kepada-Nya, “Engkaulah Sang Anak yang datang dari-Ku; pada hari ini, Aku telah menjadikan Engkau sebagai Anak.”

[6] Sebagaimana telah disabdakan-Nya dalam nas lainnya, “Engkau adalah Imam untuk selama-lamanya, menurut peraturan Malkisedik.”

[7] Pada waktu Isa masih memiliki tubuh yang fana, Ia mempersembahkan doa dan permohonan dengan seruan yang kuat serta cucuran air mata, kepada Dia yang berkuasa menyelamatkan-Nya dari maut, dan Ia didengarkan karena kesalehan-Nya.

[8] Sekalipun Ia adalah Sang Anak, Ia belajar untuk taat melalui segala hal yang diderita-Nya.

[9] Setelah disempurnakan, Ia menjadi sumber keselamatan yang kekal bagi semua orang yang taat kepada-Nya,

[10] serta disebut sebagai Imam Besar oleh Allah menurut peraturan Malkisedik.

[11] Mengenai hal itu, banyak yang ingin kami bicarakan, tetapi sulit untuk dijelaskan karena kamu lamban dalam hal mendengar.

[12] Sebab dilihat dari lamanya waktu, kamu sudah sepatutnya menjadi pengajar-pengajar. Akan tetapi, masih pula harus ada orang yang mengajarkan kamu mengenai hal-hal mendasar dari firman Allah. Jadi, air susulah yang kamu perlukan, bukan makanan keras.

[13] Setiap orang yang hidupnya masih bergantung pada susu, tidak terbiasa dengan ajaran yang benar sebab ia adalah kanak-kanak.

[14] Sedangkan makanan yang keras adalah bagi orang-orang yang sudah dewasa sebab mereka sudah terbiasa memakai pancaindra mereka untuk membedakan antara yang baik dengan yang jahat.

Surat Ibrani — Chapters